Selasa, Mei 27

SINEMA TV UJANG PANTRY 2 ’POTRET NAJIS KAUM KAPITALIS’

24 hari setelah Meyday ’peringatan hari buruh internasional’, tepatnya hari Minggu tanggal 25 Mei 2008, sekitar pukul 8 malam saya menonton sebuah sinema tv di AnTV, dan berikut tulisan saya yang terinspirasi dari film tersebut;

‘sudah 3 tahun perusahaan ini bertahan hidup dari subsidi silang perusahaan lain yang satu grup dengan kita, dan sekarang perusahaan ini sedang membutuhkan pengorbanan untuk dapat terus bertahan’ kata pak Handoko. ‘tapi kenapa kita yang dikelas bawah yang harus dikorbankan bukan dari manajemen atau dari HRD misalnya. Jawab Ujang, ‘yah karena kalau kita mengadakan pemotongan tunjangan untuk kelas menengah ataupun atas, jumlah mereka sedikit sehingga tidak terlalu berpengaruh bagi perusahaan tapi kalau pemotongan tunjangan kesehatan bagi kelas bawah, jumlahnya paling besar sehingga sedikit banyak akan membantu perusahaan ini, ’ maaf kalau ini terdengar kasar, terus terang saja orang-orang yang mempunyai kemampuan dan posisi di tingkat eksekutif, sangat sulit dicari daripada para pekerja yang ada di tingkat bawah seperti anda’ ujar pak Handoko. ‘jadi kitalah yang harus selalu siap dikorbankan pak’, Kata Ujang lemas.’
Itulah sekilas percakapan antara pak Handoko dan Ujang dalam sebuah sinema televisi yang berjudul Ujang Pantry 2. Percakapan itu terjadi dalam sebuah forum negosiasi antara CEO dan perwakilan pihak pekerja kalangan bawah yang diwakili oleh Ujang. Hal ini menjadi menarik karena kejadian dalam film tersebut sering terjadi dalam kejadian sesungguhnya, dimana ketika para pekerja kelas bawah melakukan demonstrasi dengan tuntutan yang berkaitan dengan kesejahteraan selalu saja pihak pemilik modal, owner, CEO atau apalah sebutannya selalu berusaha meredakan situasi dengan mengadakan forum temu dan meminta perwakilan dari demonstran. Tidak jarang forum temu itu menjadi suatu kemunduran bagi para demonstran karena pemikiran mayoritas hanya akan terepresentasi oleh satu atau beberapa orang yang tentunya sangat mudah termoderasi. Seringkali pihak yang mewakili kelas bawah dipaksa untuk mengikuti logika-logika pemilik modal atau ‘LOGIKA-LOGIKA BORJUASI’, entah karena kemampuan intelektual dan penguasaan tehnik komunikasi yang biasanya jauh dibawah para CEO, yang pastinya mempunyai jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga gerakan yang terjadi secara ‘organis’pun akan mudah dipatahkan. Memang terkadang forum temu tersebut dilakukan dengan mediasi, tapi tak jarang mediator yang ada tidak mampu merepresentasikan kepentingan kelas bawah dan justru menguatkan pihak pemilik modal. Hal itu dikarenakan sang mediator seringkali berasal dari kalangan birokrat yang mempunyai ‘kepentingan-kepentingan tersendiri’ atau paling tidak memang logika-logikanya adalah ‘logika-logika statistik dan angka’ yang jauh dari pemikiran-pemikiran humanis sehingga otomatis sejalan dengan pemikiran-pemikiran pihak pemilik modal, sedangkan apabila mediatornya adalah pihak yang ditunjuk kelas bawah seperti dari kalangan LSM, mahasiswa, aktivis gerakan sosial ataupun kelompok-kelompok sejenisnya, maka yang akan keluar adalah tuduhan bahwa gerakan para pekerja itu telah ‘ditunggangi’ oleh kelompok-kelompok ‘kiri’ atau ‘komunis’, sehingga berpotensi menimbulkan konflik-konflik horizontal dikalangan para pekerja dan masyarakat.

‘Perusahaan terdiri dari kumpulan orang-orang, oleh karenanya ia seperti manusia sehingga ketika perusahaan itu sakit dan mungkin harus diamputasi maka itu harus dilakukan’ Pak Handoko menjelaskan, ‘tapi mengapa harus kami’ ujar Ujang menghiba. ‘Bagaikan tubuh para eksekutif adalah otak, sedangkan kalian adalah jari, untuk tetap hidup mungkin kita bisa kehilangan jari, tapi tidak bila kehilangan otak’.
Analogi yang disampaikan Pak Handoko tentu saja akan sangat sulit dipatahkan oleh Ujang, tapi sebenarnya kalau kita telaah, analogi semacam itu mempunyai sisi kelemahan. Para pekerja bawah walaupun pekerjaannya hanya mencakup kerja-kerja operasional produksi dan bukan perencanaan atau apapun itu, sebenarnya merupakan motor penggerak atau penghasil ‘produk’ secara langsung. Bisa dibayangkan bila di sebuah perusahaan tidak ada yang mau mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan produksi perusahaan itu tidak akan menghasilkan apa-apa, sehingga keberadaan para pekerja kelas bawah tetaplah vital bagi perusahaan. Jika perusahaan adalah tubuh, para pekerja kelas bawah bukanlah hanya sekedar jari. Lebih dari itu Ia adalah kaki, tangan, perut dan juga mungkin dubur bagi perusahaan itu. Dengan demikian para CEO yang adalah kepala bagi tubuh itu, tetap tidak akan mampu melakukan apapun tanpa ‘tangan, kaki, perut atau bahkan jika hanya tanpa duburnya sekalipun’.
Akan tetapi, di Indonesia terkadang negara yang bertanggung jawab membuat regulasi justru menguntungkan para pemodal dengan membuat regulasi-regulasi yang menjadikan para pekerja khususnya pekerja kelas bawah hanya sebagai ‘RAMBUT ATAU KUKU’ bagi tubuh perusahaan, sehingga diasumsikan jika dipotongpun pasti akan tumbuh kembali. Seperti saat ini dengan menjamurnya model OUTSOURCING, yang menjadikan posisi pekerja sangat lemah. Hal itu menunjukkan bahwa negara dan para pemodal sebenarnya telah ‘berkongkalikong’ untuk menciptakan situasi yang jauh dari rasa ‘KEMANUSIAN YANG ADIL DAN BERADAB’ sehingga tujuan bangsa ini untuk menciptakan ‘KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA’ hanya merupakan retorika kosong yang tidak mempunyai makna apapun.
Oleh karena itu tulisan ini mengajak kaum pekerja untuk menyatukan sikap dan terus bergerak. ‘Kesejahteraan harus direbut karena tidak akan munngkin diberikan begitu saja dalam sebuah negara kapitalis seperti ini’. Konsisten dalam memilih mogok kerja dan aksi massa sebagai bentuk gerakan yang paling efisien, karena dengan mogok kerja secara serentak dan berskala nasional atau kalau mungkin berskala internasional akan memaksa negara dan pemodal untuk bergerak ke tepi, karena kerugian yang mereka tanggung, pada saat itulah para pekerja sebagai kaum mayoritas harus mampu mengambil alih kekuasaan.
Jangan sekali-kali mogok makan itu hanya menyiksa diri dan haram hukumnya, APALAGI KONSEPSI NEGARA INI TENTANG KESEJAHTERAAN MASIH JAUH TERBELAKANG.
‘Lha wong rakyatnya pada kelaparan, banyak anak-anak yang menderita gizi buruk bahkan busung lapar, negara tidak mampu melakukan apapun, malah menaikan harga BBM tanpa mampu mengendalikan harga kebutuhan pokok sehingga kelaparan bisa dipastikan akan semakin meluas, jadi negara ini belum memperhatikan rakyatnya yang kelaparan, kok ya masih ada orang-orang yang melakukan aksinya dengan mogok makan, ya sampai kurus kering pun negara tidak bakalan menanggapi’.
Jadi seperti perkataan Ujang ketika dia meminta Nadine pacarnya yang adalah salah satu eksekutif di perusahaannya untuk membantu memberikan pembelaan dalam forum temu, Nadine menolak dan ketika Ujang terus medesak dia hanya terdiam. Ujang berkata ‘ KATA ORANG DIAM ITU EMAS, TAPI ITU SALAH KARENA DISINI DIAM ITU ADALAH PENGHIANATAN’.
‘Teruslah bergerak dalam perjuangan kawan!, lawan rezim dan sistem yang menindas, dan yakinlah Tuhan pasti menyertai kita’.



Z-rio Evolusta. Mei 2008

Rabu, April 30

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

 
 

Pengertian

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Rasional

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Pemikiran Tentang Belajar

Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
Hakekat

Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.

Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.

Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.

Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.

Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.

Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Penerapan CTL dalam pembelajaran

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Senin, Januari 28

LSM-LSM DI SURABAYA, BERSEKOLAHLAH ...

LSM atau Lembaga Swadaya Masyarakat atau dalam istilah kerennya dikenal sebagai Non Government Organization (NGO) merupakan bagian dari ‘stakeholder’ yang mampu melakukan kajian-kajian praktis, ilmiah dan juga terstruktur dalam menanggapi isu-isu yang menjadi bidang kerjanya seperti; masalah lingkungan, politik, kesehatan dan lain-lain. Saat ini di Surabaya sudah ada puluhan bahkan ratusan LSM yang didirikan, sehingga LSM sudah bisa menjadi kekuatan politik dalam artian mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik/kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah dan lebih jauh lagi mampu menggerakkan massa dalam proses penyadaran terhadap isu tertentu dan kemudian menyusun tindakan-tindakan praktis yang melibatkan massa dalam jumlah besar, semisal sebuah LSM lingkungan di suatu daerah dalam kerja-kerjanya yang terstruktur dan ilmiah akhirnya mampu membuat masyarakat disekitarnya untuk mengelola sampah menjadi pupuk kompos sehingga bisa mengurangi timbunan sampah dan sekaligus memberikan ladang pemasukan ekonomi baru bagi masyarakat tersebut.
Sekolah di Indonesia sebagai lembaga formal pendidikan, terkadang masih sering menjaga jarak dengan realitas lingkungannya, walaupun pemerintah saat ini sudah menerapkan suatu kurikulum (KTSP: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diharapkan mampu membuat sekolah leluasa untuk menanggapi permasalahan-permasalahan di daerahnya tetapi sepertinya sekolah tetap hanya berkutat di kelas dan masih terus bermesraan dengan buku-buku pelajaran yang membuat siswa tenggelam dalam dunia teks saja. Oleh sebab itu tulisan ini mengajak kalangan LSM sebagai salah satu penggerak sosial yang efektif untuk mampu masuk ke dalam dunia pendidikan formal seperti sekolah dan bekerjasama dengan kalangan pendidik untuk menanggapi dan bekerjasama dalam menuntaskan satu permasalahan sosial di kawasan-kawasan disekitar sekolah dan LSM itu berdomisili, sehingga pada akhirnya membantu sekolah untuk keluar dari cangkangnya dan mampu berhadapan langsung dengan permasalahan riil di sekitarnya.
Dalam tulisan ini akan coba saya (penulis –Sat) paparkan sebuah ide yang sampai saat ini memang belum terealisasi. Saat ini saya mengajar di sebuah sekolah dasar swasta di Surabaya barat, tepatnya di kecamatan Lakarsantri. Usia-usia anak sekolah dasar merupakan usia dimana siswa mendapatkan pondasi kepribadian dan cara pandang yang akan dibawanya terus hingga ke usia-usia selanjutnya, sehingga menurut saya usia-usia
sekolah dasar tidak boleh dikesampingkan dalam proses ini. Kawasan Lakarsantri merupakan kawasan yang berbatasan dengan kawasan industri Driyorejo Gresik, sebagai sebuah kawasan industri tentunya banyak permasalahan-permasalahan terutama permasalahan-permasalahan lingkungan, bahkan belum lama ini permasalahan kualitas air yang tidak layak untuk dikonsumsi karena banyaknya pabrik di kawasan ini membuang limbahnya di kali tengah sehingga mempengaruhi kualitas air di kawasan ini. Hal itu menjadi sebuah isu hangat yang muncul dan semakin memanas setelah dibahas dalam acara metro-file di MetroTV akan tetapi seiring berjalannya waktu tampaknya isu itu saat ini mulai ‘mendingin, karena tidak ditanggapi secara serius oleh masyarakat, kalaupun ditanggapi hanya merupakan keluhan-keluhan yang tidak ditransformasikan ke dalam gerakan gerakan perlawanan yang kongkret karena memang tidak ada yang mengorganisir, oleh karena itu alangkah baiknya jikalau ada LSM yang bekerja dalam isu lingkungan khususnya air untuk bisa menggandeng sekolah-sekolah di kawasan ini, dan tentunya selaku penulis saya membuka diri, bila ada LSM yang menyambut ajakan ini silahkan untuk mengirim email yang ada di alamat blog-ini. Tentunya proses ini akan diawali dengan kunjungan dan presentasi dari pihak LSM ke sekolah-sekolah dan dilanjutkan dengan mengintegrasikan isu terkait dengan kurikulum dan metodologi pembelajaran di sekolah, prosesnya mungkin akan memakan waktu karena akan menyesuaikan dengan jadwal belajar dan segala tetek-bengek prosedur yang ada di tiap sekolah, kemudian dilanjutkan dengan mengkonsolidasikan tenaga-tenaga pendidik sebagai relawan kedalam LSM terkait. Setelah proses penyadaran berjalan melalui kajian-kajian, penelitian dan diskusi yang melibatkan keseluruhan elemen sekolah, pada titik-titik tertentu dalam proses ini akan lebih kongkret jika masa yang sudah terkonsolidasi dalam hal ini siswa dan tenaga pendidik melakukan gerakan masa untuk mendorong kebijakan publik yang lebih baik dan tentunya akan lebih efektif apabila pada akhirnya proses ini bisa melahirkan front-front pergerakan peduli lingkungan yang terdiri dari LSM, sekolah-sekolah dan masyarakat luas. Demikian semoga tulisan dalam opini ini bisa mendapatkan sambutan positif dari pihak-pihak terkait.

Rabu, Januari 23

PENDIDIKAN DALAM TEMPURUNG

Gaspar Van Houten adalah bayi yang dilahirkan dari hubungan gelap ayah ibunya, disaat masih bayi itulah kedua orangtuanya meninggal dunia, kemudian dia diasuh oleh kakeknya. Pada masa itu di Eropa masih sangat memegang teguh nilai-nilai moralitas puritan Victorianism dimana bayi yang berasal dari hubungan gelap dianggap sebagai anak haram. Hal itu disadari oleh kakek Gaspar Van Houten hingga bayi itu disembunyikan di loteng yang terisolasi dari dunia luar. Kakeknya hanya menyambanginya saat memberi makan, hingga saat ditemukan bocah Gaspar Van Houten yang waktu itu berusia belasan tahun ini tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis dan tertidur layaknya bayi yang baru dilahirkan.
Cerita yang sangat terkenal di wilayah keilmuan sosiologi dan psikologi ini menyiratkan bahwa proses perkembangan seorang anak hingga akhirnya mempunyai kemampuan berkomunikasi verbal maupun non vebal, serta kemampuan lainnya yang diharapkan sesuai dengan tugas perkembangannya (berjalan, makan, mandi sendiri, memahami posisi gender dll) sangat ditentukan pada bentuk interaksi yang didapatkannya atau dalam bahasa Chomsky seorang pakar lingustik beraliran nativisme disebut sebagai Corpus, walaupun dalam hal ini Chomsky memfokuskan pada kemampuan berbahasa.
Di Surabaya saat ini bermunculan real-estate dan sekolah. Sekolah dari tingkat paling bawah seperti Kiddies hingga tingkat universitas, dan jauh sebelum itu sekolah/yayasan yang membawa bendera agama dan terkadang etnis sudah banyak didirikan. Pastinya, coraknya jauh lebih homogen dibandingkan sekolah-sekolah negeri ataupun sekolah-sekolah umum yang ada, homogen baik secara religi, etnis maupun kelas ekonomi. Mungkin disatu sisi ini merupakan suatu kemajuan tapi disisi lain bila tidak hati-hati ini bisa jadi sebuah kemunduran bagi pendidikan pluralisme di negara ini. Padahal pluralisme merupakan hal yang sangat diakui oleh dasar negara ini, Pancasila, yang sertanya menghargai hak asasi manusia sebagai konsekuensi logis terhadap penerimaan adanya keberagaman dan perbedaan (baca; pluralisme – sat). Ketika sejak dini anak sudah berada di lingkungan yang homogen dan dia hanya berinteraksi dengan teman sebayanya yang notabene beragama sama, etnismya juga sama, ataupun kelas ekonominya yang sama sehingga semakin menguatkan potensi primordialisme yang biasanya memang sudah ditanamkan dalam tradisi/lingkungan keluarganya. Pengenalan terhadap , agama, maupun kelas ekonomi lain hanya sebatas dari buku ataupun bahan media pembelajaran saja. Pengalaman berinteraksi langsung otomatis akan sangat minim pada lingkungan pendidikan yang seperti itu. Padahal pada masa perkembangan tertentu , seperti masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak akhir dimana nilai, norma, moralitas serta penghargaan terhadap perbedaan sudah mulai diletakan, kebiasaan berkelompok dengan teman sebaya (peer-group) mulai tumbuh, diperlukan suatu pengalaman kongkret untuk menyadari bahwa perbedaan itu ada secara alamiah dan harus dihargai. Piaget menyebutkan hal itu sebagai fase operasional kongkret artinya mulai terjadinya perubahan kognitif secara abstrak maupun imajiner menjadi kongkret atau nyata (bisa dilihat, dirasakan, berempati, dll), hingga disyaratkan metode pengajaran terhadap anak pada masa itu lebih menekankan pada sesuatu yang sungguhan, tidak hanya secara tekstual bahkan visual tetapi interaksi nyata terhadap subyek pembelajaran. Oleh karena itu melalui tulisan ini diharapkan penyelenggara pendidikan yang bersifat exclusive lebih memperhatikan pendidikan pluralisme dengan tetap terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan interaksi yang sehat dengan ragam masyarakat yang ada di bangsa ini. Sehingga kelak tidak muncul lagi generasi yang membuat Undang-undang atau RUU yang jelas-jelas bertentangan dengan KEBHINEKAAN seperti RUU-APP ataupun beberapa Perda yang memberlakukan syariat didaerahnya. Dan tentunya tidak kalah penting bahwa kemajuan dunia pendidikan haruslah merata, tidak hanya dinikmati yang kaya saja, karena sekolahan yang berfasilitas bagus, dan menekankan pada bentuk kompetensi yang bersaing di era global layaknya sekolah-sekolah internasional yang banyak bermunculan saat ini, pada umumnya hanya bisa diakses mereka yang berasal dari kelas menengah atas.
Tulisan ini berharap semoga kelak tidak ada lagi generasi kita yang gagap terhadap pluralisme, gagap terhadap globalisasi dan gagap terhadap kenyataan sosial seperti halnya Gaspar Van Houten yang benar-benar gagap karena terisolasi dari bentuk-bentuk interaksi dunia luar dan dari kenyataan sosial masyarakatnya.

Lelaki yang begitu mencintai hujan.

Lelaki itu masih setia menunggui hujan. Pisau belati yang dicuri dari pamannya masih digenggamnya erat. Matanya masih menuju timur, mencari pertanda kalau-kalau ia muncul lagi. Tidak peduli walau gelap, basah dan dingin. Ia masih setia menunggui hujan. “kalau-kalau pagi kembali dan menenteng matahari di lengannya, aku harus membunuhnya…!”, pikirnya. Sekilas waktu tetap berjalan dan pagi berulang. Benar matahari tetap saja dibawanya, dengan senyumnya yang sinis matahari itu menatap sang lelaki, sembari membuyarkan malam, ia pun menampar hujan, menjadikannya embun yang luruh hingga berselingkuh dengan rerumputan. Lelaki itupun tersentak, ditelannya kantuk sebagai sarapannya pagi itu. Matanya nanar menatap matahari yang sudah mengusir hujan darinya. Kemudian ia pun berlari menuju timur, diacungkan pisaunya kepada matahari itu. “aku akan membunuhmu…!”, teriaknya.>
Inilah kisah lelaki itu, lelaki yang sangat mencintai hujan dan begitu ingin membunuh matahari. 
Satrio, - Malam di Atas Atap – 2006